Bincang Perempuan Circle– Buku The Broken Strings karya Aurelie Moeremans bukan sekadar cerita tentang kesedihan personal, melainkan cermin besar bagi realitas perempuan hari ini. Dalam diskusi Bincang Baca Circle yang digelar Sabtu, 14 Februari 2026 menghadirkan narasumber Retno Wahyuningtyas dan diikuti oleh sejumlah perempuan muda di Bengkulu yang tergabung dalam Bincang Perempuan Circle, buku ini dibedah sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana sistem patriarki kerap membuat “senar” kehidupan perempuan seolah terputus.
Retno Wahyuningtyas menilai, kisah dalam buku tersebut memperlihatkan bagaimana ketimpangan relasi kuasa bekerja secara halus dalam sebuah hubungan. Menurutnya, relasi yang tidak sehat sering berakar pada pandangan bahwa satu pihak harus dominan, sementara pihak lain—sering kali perempuan—dituntut untuk tunduk.
“Dominasi ini kerap disamarkan sebagai bentuk perlindungan atau kasih sayang. Padahal, ketika satu pihak membatasi ruang gerak, mengontrol keputusan, dan meredam suara pasangannya, itu adalah bentuk ketimpangan kuasa,” ujar Retno dalam diskusi tersebut.
Akibatnya, perempuan perlahan kehilangan hak atas dirinya sendiri. Kontrol yang tidak seimbang membuat keputusan personal—mulai dari relasi sosial hingga pilihan hidup—tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya.

Diskusi juga menyoroti bahaya kekerasan psikologis yang kerap tidak terlihat. Retno menegaskan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Manipulasi pikiran atau gaslighting merupakan ancaman nyata yang dapat menghancurkan kepercayaan diri perempuan secara perlahan.
“Ketika seorang perempuan terus-menerus diragukan persepsinya, dianggap terlalu sensitif, atau disalahkan atas emosi yang muncul, dampaknya bisa lebih dalam daripada luka fisik. Ia bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak berdaya,” jelasnya.
Kekerasan psikologis semacam ini, lanjut Retno, sering kali sulit dikenali karena dibungkus dalam relasi yang tampak normal. Perempuan pun kerap terjebak dalam siklus yang membuatnya mempertanyakan kewarasannya sendiri.
Selain relasi kuasa dan kekerasan psikologis, tekanan sosial juga menjadi faktor penting. Banyak perempuan merasa harus bertahan dalam hubungan yang merusak karena takut dicap gagal atau tidak mampu menjaga keutuhan relasi.
“Perempuan sering dibebani tanggung jawab moral sebagai penjaga hubungan. Keluar dari situasi buruk dianggap sebagai aib. Stigma inilah yang menjadi tembok besar dan membuat banyak perempuan menunda penyelamatan diri,” kata Retno.
Di era digital, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Meski perempuan kini memiliki lebih banyak ruang untuk bersuara, pola hubungan toksik tetap terjadi dalam bentuk yang lebih halus—melalui kontrol emosional, pemantauan media sosial, hingga manipulasi berbasis teknologi.
Dalam kajian gender, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran bentuk subordinasi perempuan. Jika sebelumnya lebih terlihat dalam bentuk fisik, kini kontrol dan eksploitasi bisa tersembunyi di balik pesan singkat, akses akun, atau tuntutan transparansi yang berlebihan atas nama cinta.
“Teknologi seharusnya membebaskan, tetapi dalam relasi yang timpang, ia justru bisa menjadi alat kontrol baru. Standar ganda gender masih ada, hanya cara kerjanya lebih halus,” ujar Retno.
Ia menekankan bahwa mengenal konsep gender bukan sekadar memahami pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, melainkan menyadari hak dasar setiap individu untuk hidup bebas dari intimidasi dan kekerasan.

Diskusi buku ini juga menjadi ruang aman (safe space) bagi para peserta untuk berbagi pengalaman dan perspektif. Retno mengapresiasi keberanian perempuan muda Bengkulu yang hadir dan membuka diri dalam forum tersebut.
“Ketika perempuan saling berbagi cerita tentang pengalaman dan bahaya kekerasan, mereka sedang membangun kekuatan kolektif. Mengenali pola-pola toksik adalah langkah pertama untuk menjadi lebih berdaya,” tuturnya.
Ia menambahkan, meskipun ada bagian dari hidup yang terasa “patah” atau “putus”, perempuan selalu memiliki kapasitas untuk menyusunnya kembali. Kesadaran kritis atas relasi yang tidak setara menjadi fondasi penting untuk keluar dari sistem patriarki yang menindas.
Melalui diskusi ini, para peserta tidak hanya membaca sebuah buku, tetapi juga merefleksikan pengalaman personal dan sosial yang lebih luas. The Broken Strings pun menjadi pengingat bahwa membangun relasi yang sehat membutuhkan kesetaraan, keberanian untuk bersuara, dan komitmen untuk tidak lagi menormalisasi ketimpangan.